Edit

About this Course HTML and CSS Are the Tools You Need to Build a Website Coding for beginners might seem hard. However, starting with the basics is a great way to familiarise yourself with the syntax and the process of what it takes to create a website. This course teaches you HTML and CSS, two. 

turitor@admin.com

+01145928421

PENDAHULUAN

Masalah merupakan hal yang biasa dihadapi oleh manusia. Masalah yang dihadapi berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Suatu keadaan yang dianggap sebagai masalah bagi seseorang, belum tentu merupakan masalah bagi orang yang lain.

Suatu keadaan dikatakan sebagai masalah bagi seseorang apabila keadaan tersebut merupakan tantangan yang tidak dapat diselesaikan dengan prosedur rutin yang biasa digunakan dan orang tersebut merasa tertarik untuk menyelesaikannya. Begitu pula dengan masalah dalam matematika, suatu pertanyaan merupakan suatu masalah bagi siswa apabila pertanyaan tersebut masih dapat dimengerti oleh siswa, merupakan suatu tantangan bagi siswa untuk dapat menyelesaikannya, dan pertanyaan tersebut tidak dapat diselesaikan menggunakan prosedur rutin yang telah diketahui siswa.

Dalam kurikulum matematika, pemecahan masalah merupakan bagian yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada masalah yang bersifat tidak rutin. Melalui kegiatan ini, aspek-aspek kemampuan matematika seperti penerapan aturan pada masalah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, dan komunikasi matematika dapat dikembangkan secara lebih baik.

Survey yang dilakukan oleh Suryadi dkk (Erman Suherman, dkk. 2003) tentang “Current Situation on Mathematics and Science Education in Bandung” yang disponsori oleh JICA, antara lain menemukan bahwa pemecahan masalah matematika merupakan salah satu  kegiatan matematika yang dianggap penting oleh para guru maupun siswa di semua tingkatan. Akan tetapi, hal tersebut masih dianggap sebagai bagian yang paling sulit dalam matematika.

Sebagaimana tercantum dalam Kurikulum Matematika Sekolah bahwa tujuan  diberikannya matematika antara lain agar siswa mampu menghadapi perubahan keadaan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif. Hal ini jelas merupakan tuntutan yang sangat tinggi yang tidak mungkin dapat dicapai hanya melalui pembelajaran dengan sifat hapalan, latihan pengerjaan soal yang bersifat rutin, serta proses pembelajaran yang biasa.

Dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006 juga dijelaskan bahwa mata pelajaran matematika sangatlah penting untuk dipelajari siswa SMA yaitu agar siswa mempunyai kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Oleh karena itu kemampuan dalam pemecahan masalah sangatlah penting bagi seseorang untuk dapat meminimalisir kesulitan-kesulitan dalam menghadapi masalah-masalah yang ada dalam kehidupan ini.

Mengajarkan siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah memungkinkan siswa menjadi lebih analitik dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, jika siswa dilatih untuk menyelesaikan suatu permasalahan, maka siswa itu akan mampu mengambil keputusan, karena siswa tersebut mempunyai keterampilan tentang mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis informasi, dan menyadari betapa perlunya meneliti kembali hasil yang telah diperolehnya.

Bagi siswa, pemecahan masalah harus dipelajari. Di dalam menyelesaikan suatu permasalahan, siswa diharapkan memahami proses menyelesaikan masalah dan menjadi terampil dalam memilih dan mengidentifikasi konsep yang relevan, mencari generalisasi, merumuskan rencana penyelesaian, dan mengorganisasikan keterampilan yang telah dimiliki  sebelumnya.

Pemecahan masalah telah lama menjadi fokus perhatian utama dalam pengajaran matematika di sekolah. Sebagai contoh, salah satu agenda yang dicanangkan oleh The National Council of Teachers of Mathematics di Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa pemecahan masalah harus menjadi fokus utama dalam matematika sekolah.

Untuk memperoleh kemampuan dalam pemecahan masalah, seseorang harus memiliki banyak pengalaman dalam memecahkan berbagai masalah. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang diberi banyak latihan pemecahan masalah, memiliki nilai tes pemecahan masalah yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang latihannya lebih sedikit.

Berdasarkan hasil observasi, secara umum kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas X IPA 2 MA Hasyim Asy’ari Bangsri masih rendah. Hal ini tampak ketika pembelajaran diisi dengan soal yang berupa soal- soal dalam bentuk pemecahan masalah, siswa masih tampak kebingungan dalam memahami soal yang diberikan dan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Bahkan ada siswa yang sama sekali tidak bisa dalam menyelesaikan soal. Kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh kesulitan siswa dalam memahami soal pemecahan masalah beserta proses penyelesaiannya. Dalam mengerjakan soal-soal, sebagian besar siswa hanya menggunakan langkah-langkah sederhana dan langsung menuliskan jawaban dari soal yang diberikan, tanpa menuliskan secara runtut apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan langkah- langkah penyelesaiannya.

Dari hasil pengamatan, kebanyakan siswa sebenarnya mempunyai kemampuan yang baik dalam menyelesaikan soal latihan jika soal latihan tersebut memiliki bentuk yang sama seperti contoh yang dijelaskan oleh guru. Akan tetapi, apabila soal yang diberikan memerlukan tahapan-tahapan yang berbeda dalam penyelesaiannya, maka siswa tersebut akan mengalami kesulitan menyelesaikan masalah yang diberikan guru.

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa adalah pembelajaran berbasis masalah. Berdasarkan Depdiknas (2008), pembelajaran berbasis masalah bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam pembelajaran berbasis masalah dapat dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.

Penerapan pembelajaran berbasis masalah dilakukan karena berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli sebelumnya, pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dengan adanya penerapan pembelajaran berbasis masalah tersebut, diharapkan dapat digunakan untuk membantu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas X IPA 2 MA Hasyim Asy’ari Bangsri.

 

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan di MA Hasyim Asy’ari Bangsri. Penelitian tindakan kelas terdiri dari 4 langkah utama, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X IPA 2 MA Hasyim Asy’ari Bangsri. Objek penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas X IPA 2 MA Hasyim Asy’ari Bangsri.

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan di kelas X IPA 2 MA Hasyim Asy’ari Bangsri beralamat di jalan pramuka No.9 Bangsri, Jepara. Pelaksanaan tindakan penelitian yaitu pada semester genap tahun ajaran 2018/2019 dengan menyesuaikan jam pelajaran matematika di kelas X IPA 2.

Dalam peneltian ini, peneliti menggunakan model penelitian tindakan kelas dalam suatu spiral yang saling berkaitan atau dapat juga disebut sebagai siklus berulang, sehingga apa yang menjadi hasil pada siklus sebelumnya menjadi bahan pertimbangan untuk siklus selanjutnya. Setiap siklus terdiri dari 2 sampai 5 kali pertemuan, yaitu 2 sampai 4 pertemuan untuk tindakan dan 1 pertemuan untuk tes kemampuan pemecahan masalah matematis. Siklus-siklus tersebut memiliki empat tahapan pelaksanaan penelitian yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini berhenti apabila indikator keberhasilan telah tercapai.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas X IPA 2 MA Hasyim Asy’ari Bangsri mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Selain itu, peningkatan juga terjadi pada setiap aspek kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hasil tes siklus I persentase  kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sebesar 68,38%. Hasil ini mengalami peningkatan sebesar 29,03% dari hasil tes pratindakan dengan persentase  kemampuan pemecahan masalah matematis siswa hanya 68,38%. Dari hasil tes siklus II, persentase rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa mencapai 82,35%. Hasil ini mengalami peningkatan sebesar 13,97% dari hasil tes siklus I yang  memiliki persentase kemampuan pemecahan masalah matematis siswa  sebesar 68,38%. Berikut ini uraian kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dilihat dari persentase pencapaian per aspeknya:

Kemampuan memahami permasalahan

Kemampuan memahami permasalahan siswa mengalami peningkatan di setiap siklus. Dari hasil tes pratindakan, persentase kemampuan memahami permasalahan adalah sebesar 60,32% dan dari hasil tes siklus I sebesar 72,22% atau mengalami peningkatan  sebesar 11,90% dibandingkan dengan persentase kemampuan memahami permasalahan pada tes pratindakan. Sedangkan pada tes siklus II, persentase  kemampuan memahami permasalahan siswa sebesar 83,95% atau mengalami peningkatan sebesar 11,73% dibandingkan dengan persentase kemampuan memahami permasalahan pada siklus I.

Kemampuan merencanakan penyelesaian Dari hasil tes siklus I, persentase kemampuan siswa dalam merencanakan penyelesaian mengalami peningkatan sebesar 29,02% dibandingkan dengan persentase kemampuan merencanakan penyelesaian pada tes pratindakan, yaitu dengan persentase kemampuan merencanakan penyelesaian pada tes pratindakan sebesar  44,92% dan pada tes siklus I sebesar 73,94%. Sedangkan pada tes siklus II, persentase kemampuan siswa pada aspek ini sebesar 78,09%, atau mengalami peningkatan sebesar 4,15% jika dibandingan dengan persentase kemampuan merencanakan penyelesaian pada tes siklus I. Peningkatan yang terjadi sangat kecil. Hal ini dapat dikarenakan penguasaan konsep yang kurang matang dari siswa dan tidak adanya keterkaitan antara penyelesaian yang direncanakan dengan penyelesaian yang direalisasikan.

Kemampuan menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana  Persentase kemampuan menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana pada tes pratindakan dan tes siklus juga mengalami peningkatan. Hasil pada tes siklus I yaitu sebesar  53,58%, atau terjadi peningkatan persentase kemampuan menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana sebesar 15,37% jika dibandingkan dengan persentase kemampuan menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana pada tes pratindakan yang diperoleh persentase sebesar 38,21%. Pada tes siklus II,  persentase  kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana sebesar  81,13%, atau mengalami peningkatan sebesar 27,55% jika dibandingkan dengan persentase kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana pada tes siklus I.

Kemampuan mengevaluasi jawaban. Pada tes siklus I, persentase kemampuan siswa dalam mengevaluasi jawaban adalah sebesar 71,56% dan pada tes pratindakan sebesar 3,81%. Hal ini mengalami peningkatan sebesar 67,75% jika dibanding dengan persentase kemampuan  mengevaluasi jawaban pada tes pratindakan. Pada tes siklus II,  persentase kemampuan siswa dalam mengevaluasi jawaban sebesar 80,55%, atau meningkat sebesar 8,99% jika dibandingkan dengan persentase kemampuan  mengevaluasi jawaban pada tes siklus I.

 

SIMPULAN

Penerapan pembelajaran berbasis masalah sesuai tahapan-tahapan tersebut untuk pokok bahasan trigonometri dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan rata-rata persentase skor pada tes siklus II dibandingkan dengan tes siklus I dan tes pratindakan.  Rata-rata persentase skor tes pratindakan sebesar 38,38% dalam kategori rendah. Setelah dilakukan pembelajaran berbasis masalah rata-rata persentase skor tes siklus I menjadi sebesar 65,18% dalam kategori sedang, sedangkan pada tes siklus II sebesar 80,55% dalam kategori tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni. 2009. Teori Belajar & Pembelajaran. Yogyakarta: ArRuzz Media.

Depdiknas. 2006. Permendiknas No. 26 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2008. Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya. Jakarta: Depdiknas.

Didi Suryadi. 2010. Pemecahan Masalah Matematis. [Online] Tersedia:

http://file.upi.edu/Direktori/

Erman Suherman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : IMSTEP.

Herman     Hudojo.     2001.    Pengembangan     Kurikulum     dan     Pembelajaran

Matematika. Malang : Universitas Negeri Malang.

Hudojo, H. 2001. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang : Universitas Negeri Malang

Jackson. 1992. Handbook of Research on Curriculum. New York: A Project of American Educational Research Association.

Kusnandar. 2011. Guru Profesional: Impelentasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Press.

Made Wena. 2010. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tindakan

Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara

Mahmudi, A. 2008. Pemecahan Masalah dan Berpikir Kreatif. http://staff.uny.ac.id/dosen/ali-mahmudi-spd-mpd-dr (diunduh 4 Agustus 2018).

Nidawati. 2013.” Belajar dalam Perspekif Psikologi dan Agama”. Jurnal Pionir. 1(1): 13-28.

Polya, George. 1988. How To Solve It. New Jersey: Princeton University Press.

Rusman. 2011. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme. Jakarta: Rajawali Press.

Sriyono, dkk.1992. Tehnik Belajar Mengajar dalam CBSA. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugihartono. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta:UNY Press.

Sujono. 1988. Pengajaran Matematika untuk Sekolah Menengah. Jakarta:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.